
momotor.id – Ringkasan konten: Busi merupakan komponen pengapian vital yang menentukan kinerja pembakaran mesin sepeda motor. Ketika kinerja busi menurun akibat keausan elektroda atau penumpukan kerak karbon, motor akan menunjukkan gejala seperti susah dihidupkan saat mesin dingin, tarikan brebet, mesin sering mati mendadak saat idle, konsumsi BBM boros, hingga warna elektroda yang menghitam atau mengering kusam. Mengganti busi secara berkala setiap 6.000–10.000 km adalah langkah preventif terbaik untuk mencegah motor mogok di tengah jalan.
Pernahkah kamu berada di situasi harus buru-buru berangkat kerja di pagi hari, tetapi motor kesayangan malah ngawur dan susah sekali dihidupkan?
Atau saat sedang asyik membelah kemacetan kota, tiba-tiba tarikan mesin terasa brebet dan tersedat-sedat?
Situasi seperti ini tentu bikin panik dan merusak suasana hati. Padahal, dalam banyak kasus, biang kerok dari masalah besar tersebut kerap berasal dari komponen kecil yang harganya tidak seberapa: busi sepeda motor.
Sebagai komponen penentu percikan api di ruang bakar, busi bekerja ekstra keras setiap kali mesin berputar.
Sayangnya, karena posisinya tersembunyi di balik bodi motor, komponen ini sering kali dilupakan sampai akhirnya motor benar-benar mogok di tengah jalan.
Agar kamu tidak terjebak situasi mogok di jalan, perhatikan lima sinyal awal dari mesin motormu berikut.
Sinyal paling klasik ketika busi mulai melemah adalah mesin yang butuh waktu lama untuk menyala, baik saat di-starter elektrik maupun menggunakan kick starter.
Ini terjadi karena celah (gap) elektroda busi sudah melebar akibat terkikis, sehingga percikan api yang dihasilkan terlalu kecil untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.
Saat kamu menarik tuas gas untuk mendahului kendaraan lain, apakah terasa ada jeda atau keheningan sejenak (misfire) diikuti lontaran tenaga yang tersendat?
Kondisi brebet ini menandakan bahwa proses pembakaran di dalam silinder tidak terjadi secara sempurna akibat percikan api busi yang putus-putus.
Ketika berhenti di lampu merah atau persimpangan jalan, putaran mesin (stationery) terasa tidak stabil dan gampang mati sendiri.
Busi yang sudah aus tidak mampu menjaga konsistensi percikan api saat debit bahan bakar berada di titik minimum (idle).
Baca juga: Waspada! Ini 9 Penyebab Busi Motor Cepat Rusak
Jika kamu merasa isi bensin jadi lebih sering padahal rute harian relatif sama, jangan langsung menyalahkan harga BBM.
Busi yang lemah membuat sebagian bahan bakar keluar dari ruang bakar tanpa terpakai alias terbuang sia-sia. Akibatnya, efisiensi bahan bakar merosot drastis.
Jika kamu membuka busi dan melihat ujung elektrodanya:
Berdasarkan standar pabrikan otomotif Honda, busi standar berbahan nickel idealnya diganti setiap 6.000 hingga 10.000 km (atau sekitar 6–8 bulan penggunaan harian).
Selama jarak tempuh 8.000 km, busi motor telah memercikkan api lebih dari 20 juta kali di dalam ruang bakar dengan suhu ekstrem mencapai lebih dari 800°C.
Degradasi atau keausan pada ujung elektroda adalah proses alamiah yang pasti terjadi seiring waktu.
Baca juga: Begini 8 Cara Merawat Busi Motor yang Bisa Dilakukan
Bisa, jika keausan elektroda belum melebihi batas toleransi dan hanya tertutup kerak karbon tipis. Namun, jika ujung elektroda sudah terkikis atau membulat, membersihkannya tidak akan mengembalikan performa idealnya, sehingga penggantian unit baru tetap wajib dilakukan.
Busi standar berbahan nickel memiliki usia pakai sekitar 6.000–10.000 km. Sementara busi iridium memiliki titik leleh jauh lebih tinggi, percikan api lebih fokus, dan usia pakai yang bisa mencapai 20.000–30.000 km.
Harga busi standar untuk motor matic atau bebek harian umumnya sangat terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp35.000 per unit (belum termasuk jasa pasang bengkel).
Mau ganti sparepart baru, berburu unit motor impian, atau mau cari info otomotif terbaru seputar dunia motor? Yuk, dapatkan semua informasi lengkap dan penawaran terbaiknya hanya di blog momotor.id!
Motor Baru
Motor Bekas
Motor Listrik